Sunday, October 11, 2015

Titik Nol

Seperti sebuah perjalan berputar, di kota ini saya mulai menemukan titik terang dari duniaku walau pada akhirnya harus kembali ke titik awal di mana perjalanan ini pernah dimulai. Atau, kembali ke “Titik Nol”, begitu yang terlintas di dalam benak ini ketika beberapa saat merenungkan perjalanan saya di kota yang baru ini. Satu persatu kota ini mulai membuka jalan untuk saya jelajahi, dunia baru, ilmu-ilmu baru, ruang lingkup pemikiran baru, dan tentunya sebuah pengalaman baru bagi saya yang benar-benar buta akan keberadaan “dunia” ini.

Pelajaran yang terdetik hari ini, “Tidak ada yang sulit selama kita masih ada rasa ingin terus belajar, meski harus kembali ke Titik Nol, mengulang beberapa perjalanan panjang yang telah kita lalui. Kuncinya adalah sabar, dan terus berusaha melawan bebabagai tekanan dari dalam diri dan cobaan yang barangkali akan kita jumpai di waktu yang akan datang.” Dan sabar adalah bom waktu yang benar-benar menjadi tatantangan terberat saya saat ini. Semoga saya bisa menjalani semua ini, karena perjalanan ini masih begitu panjang..


Semaki Kulon, 11 Oktober 2015

Wednesday, September 30, 2015

Dalam Pengasingan

Dimanakah gerangan keberadaan saya? Apa yang sedang saya lakukan saat ini? Mengapa pada akhirnya saya memilih jalan berliku ini? Barangkali pertanyaan-pertanyaan seperti ini sedang berkecamuk di dalam benak mereka yang baru saja menyadari kehengkangan saya dari dunia mereka. Khususnya teman-teman dekat saya. Yah, pada beberapa orang saya memang sengaja pergi tanpa ada pesan atau pun pemberitahuan, bahkan pada teman-teman tedekat sekalipun, hingga sekarang saya berada di kota asing ini.

Entah benar atau salah, saya lebih memilih terlepas dari dua prasangka ini ketika saya memilih untuk melepaskan diri dari dunia mereka dan duniaku yang sebelumnya. Kalau boleh jujur, terus terang untuk sementara ini sengaja saya ingin berada di luar jangkauan siapa pun, sekedar ingin fokus menata dan memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu, berusaha membangun kembali puing-puing harapan, mengejar ketertinggalan, dan mencoba keluar dari bayang-bayang kegagalan.

Dan, konsekwensinya untuk sementara ini saya harus merelakan segala sesuatu yang berada di masa sebelumnya, termasuk teman, sahabat, kenangan, dan lainnya. Tapi bukan berarti saya ingin melupakan semuanya, bukan! Saya hanya ingin terlepas untuk sementara dari dunia mereka sambil lalu menemukan dunia saya yang baru. hingga suatu saat nanti saya berharap bisa terlahir kembali sebagai sosok  “m a n u s i a”  seutuhnya. Untuk itu, hanya kata Maaf, itu barangkali yang bisa saya ucapkan saat ini karena sudah terlalu banyak berbohong pada  m e r e k a.

Lalu, di sinilah  d u n i a k u  sekarang. Di kota pengasingan ini saya mencoba membangun kembali serpihan mimpi-mimpi yang telah lama berserak, membangun persahabatan dengan orang-orang baru, dan mencoba berbaur dengan berbagai komunitas baru dengan segala keterbatasan yang ada. Harapan saya, semoga kota ini banyak memberi warna baru dalam hidup saya, dan semoga segala  r a h a s i a  yang ada di balik semua ini bisa menuntunku hingga saya mampu menemukan apa yang saya cari selama ini.

Selanjutnya, biarlah waktu berbagi cerita tentang segala hal yang ada di balik perjalanan saya di kota ini..


Hello from the other side, my fella..

Semaki Kulon, Akhir September 2015 M.

Tuesday, September 15, 2015

Sempitnya Dunia

Dunia ini tak selebar daun kelor, begitu pepatah lama mengatakan. Hal ini baru saja saya rasakan ketika tanpa sengaja saya berjumpa dengan salah satu teman seangkatan waktu di pesantren dulu. Lalu gugur sudah usahaku untuk mengasingkan diri dari “dunia”. Tapi itu bukan lantas menjadi masalah, saya justru senang akhirnya bisa berjumpa beberapa kawan lama setelah berapa hari ini merasa sendiri di kota ini.

Sebutlah si Fulan, teman yang tiba-tiba saja saya jumpai di tengah jalan tadi. Rupanya dia sudah lama tinggal di kota ini dan konon beberapa kali dia sempat melihat saya dari kejauahan di sekitar tempat ia membuka bisnis. Ya, rupanya  kawan saya ini sudah menjadi bos sebuah stan kuliner di kota ini, dan letaknya tidak seberapa jauh dari tempat tinggal saya.

Monday, September 14, 2015

HIJRAH

Seperti mengarungi sebuah lorong waktu dan tiba-tiba saja saya terhempas ke dalam sebuah dimensi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. “Hijrah”, begitulah kata yang terlintas ketika saya merenungi “perjalanan” panjang yang untuk sementara berujung di “kota” ini.

Sudah satu mingguan ini saya mulai menjalani rutinitas dan kegiatan di duniaku yang baru ini. Dengan segala keterbatasan yang ada, saya mencoba berbaur dengan komunitas baru, bertemu dengan orang-orang baru, membangun persahabatan dan interaksi sosial baru, dan dalam waktu yang singkat tentu saja saya dituntut untuk menyesuaikan diri secepat mungkin dengan keadaan yang benar-benar asing ini.  Sejauh ini alhamdulillah berjalan dengan baik walau harus banyak mengejar ketertinggalan dan memburu sisa kesempatan.