Tuesday, December 1, 2015

Desember Yang Basah

Memasuki pekan pertama di bulan terakhir dari tahun 2015, bulan Desember. Hujan hampir tak pernah absen tiap harinya, membasahi tiap jengkal tanah di kota ini. Benar-benar Sebuah Desember yang basah, begitulah tag-line yang terbersit di kepala ketika tanpa terasa waktu telah membawa saya pada detik ini. Detik yang menunjukkan bahwa waktu terus beranjak, bergerak tanpa mengenal istilah berhenti, hingga mampu menjungkir balikkan “keadaan” yang kujalani.

Lalu, “Apa yang telah kamu lakukan selama setahun terakhir?Apa kiranya yang akan kamu lakukan di penghujung tahun yang sudah tinggal menghitung waktu ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba berkelebat begitu saja, berkelindan tak tentu arah, ketika saya baru menyadari bahwa kini sudah mendekati penghujung tahun.

Friday, November 27, 2015

Dear Purnama 20151127

Dear Purnama..

Sepertinya memang belum saatnya aku bosan menulis tentang hujan, walau kuakui pernah terbersit sesaat untuk menghentikannya. Namun kenyataannya tiap kali hujan datang dengan segala irama di tiap rintiknya, masih saja selalu membuatku terpesona tanpa jeda.

Lalu, bersamaan dengan hujan yang beberapa hari ini kerap bertandang, saat ini pun saya sedang menikmati segala rutinitas baru yang kujalani di kota ini. Satu persatu mulai kujumpai sosok-sosok baru yang kini hadir memainkan peran dalam lakon kehidupan yang kujalani. Seperti halnya sebuah pentas drama, protagonis dan antagonis menempati perannya masing-masing sesuai porsinya. Dan aku.., aku sedang benar-benar menikmatinya, walau barangkali kehadiranku hanyalah sebatas pemeran figuran di dalam kehidupan “m e r e k a”.

Ah, lagi-lagi hujan datang, Purnama. Bahkan di saat hari menjelang tutup usia..


Semaki Kulon, 27112015 M.

Monday, November 9, 2015

Pulkam

Awal November yang cukup melelahkan. Selama dua minggu harus menjalani rutinitas “peras otak” atau yang biasa mereka sebut dengan sebuah Ujian Tidak Serius. Ya, dunia baru ini mengharuskan saya menjalani rutinitas ini dengan segenap kemampuan saya yang apa adanya, dan sebagai pendatang baru di kota ini dan terlebih khusus lagi di institusi ini, hal ini menjadi dunia baru yang harus saya selami untuk beberapa waktu ke depan.

Setelah dua minggu berkutat dengan kegiatan otak ini, sementara saya ingin terlepas dari segala rutinitas ini, untuk itu sejak jauh hari sebenarnya saya sudah merencanakan untuk melepaskan diri sementara dari rutinitas akademik yang cukup melelahkan ini. Dan saya memilih untuk pulang ke kampung halaman, karena ada beberapa berkas yang harus saya ambil di rumah. Oh iya, tanpa terasa ternyata sudah tiga bulan saya berada di kota ini pasca kepulangan saya dari “negeri” nun jauh di Afrika sana. Dan ini akan menjadi kepulangan saya yang pertama sejak kepergiaanku, terhitung sejak kepulangan saya dari negeri antah berantah di benua afrika sana.

Sunday, October 11, 2015

Titik Nol

Seperti sebuah perjalan berputar, di kota ini saya mulai menemukan titik terang dari duniaku walau pada akhirnya harus kembali ke titik awal di mana perjalanan ini pernah dimulai. Atau, kembali ke “Titik Nol”, begitu yang terlintas di dalam benak ini ketika beberapa saat merenungkan perjalanan saya di kota yang baru ini. Satu persatu kota ini mulai membuka jalan untuk saya jelajahi, dunia baru, ilmu-ilmu baru, ruang lingkup pemikiran baru, dan tentunya sebuah pengalaman baru bagi saya yang benar-benar buta akan keberadaan “dunia” ini.

Pelajaran yang terdetik hari ini, “Tidak ada yang sulit selama kita masih ada rasa ingin terus belajar, meski harus kembali ke Titik Nol, mengulang beberapa perjalanan panjang yang telah kita lalui. Kuncinya adalah sabar, dan terus berusaha melawan bebabagai tekanan dari dalam diri dan cobaan yang barangkali akan kita jumpai di waktu yang akan datang.” Dan sabar adalah bom waktu yang benar-benar menjadi tatantangan terberat saya saat ini. Semoga saya bisa menjalani semua ini, karena perjalanan ini masih begitu panjang..


Semaki Kulon, 11 Oktober 2015