Saturday, August 8, 2015

Negeri Kinanah; Episode Terakhir

Ketika kita sudah berdiam lama di suatu tempat, hal yang paling berat untuk dilakukan setelahnya adalah meninggalkannya. Begitulah waktu mengajarkan pada saya, ketika tiba masanya saya benar-benar harus meninggalkan negeri ini, negeri yang sudah saya anggap sebagai rumah kedua setelah negeri kelahiranku sendiri. Waktu bergerak tanpa saya sadari, saya pun sudah tidak berani berhitung dengan angka-angka matematika lagi, untuk mengkalkulasikan sudah berapa banyak kiranya waktu yang telah saya habiskan di Negeri ini, sebab detik demi detik yang telah saya jalani telah membuat jejak-jejak kenangan yang membuat saya jauh lebih berat lagi untuk meninggalkannya.

Mungkin memang tidak banyak yang saya dapatkan selama perjalan panjang yang telah saya habiskan di negeri ini. Tapi satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan, bahwa negeri ini dan Al-Azhar khususnya telah mengajarkan pada saya satu hal yang tidak pernah diajarkan kampus manapun, satu hal itu bernama, “P e n g a l a m a n”. Saya tidak pernah menyesal karena terpaksa kembali dengan keadaan seperti ini. Saya tidak pernah menyesal telah ditakdirkan untuk singgah dan menginjakkan kaki di tanah berpasir negeri ini. justru saya sangat bersyukur telah menjadi salah satu manusia luar yang diperkenankan singgah dan menginjakkan kaki di bumi para nabi ini. Saya yakin Tuhan-ku pun tidak serta merta berbuat begitu saja telah menakdirkan saya singgah di Negeri ini.

Terima kasih Allah, Terima kasih Mesir, Terima kasih Al-Azhar, Terima kasih pada segala kenangan yang akan mengabadi di negeri ini. Terima kasih pada tiap jengkal tanah negeri ini yang telah mengizinkan kakiku untuk menjejak di atasnya. Terima kasih pada dinding-dingding peradaban yang biasa menjadi tempat berkeluh kesah kala hati gundah. Terima kasih pada lorong-lorong sempit yang biasa kuarungi, yang telah mengajarkan bagaimana indahnya sebuah perjalanan. Terima kasih, terima kasih, da terima kasih.

Dulu waktu yang membawa saya ke negeri ini, dan kini waktu pula yang membawa saya pada detik sekarang ini, detik dimana saya harus benar-benar menentukan pilihan. Selama perjalanan ini, satu hal yang selalu saya tekankan pada diri, bahwa setiap diri seseorang pasti memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dan inilah perjalanan saya, perjalanan panjang  yang memang harus saya lalui, sebuah nasib yang barangkali memang sudah ditetapkan oleh pemilik  “t u n g g a l”  perjalanan itu sendiri. Dari awal saya sepenuhnya sadar bahwa saya hanya  “s i n g g a h”  sementara di negeri ini, karena hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang, dan perjalanan ini akan terus berlanjut hingga saya dapat menemukan muara dari semua pencarian selama ini.

Dan kini tiba saatnya bagi saya melanjutkan perjalanan, beranjak dari perjalanan satu ke perjalanan lainnya. Harapan dan doa, selalu terpanjat dalam tiap detik yang saya lewati.  Semoga dengan begitu panjangnya perjalanan, dan berlikunya waktu yang saya lalui ini, nantinya saya tidak lupa jalan menuju  p u l a n g.

Sampai Jumpa, Mesir
Sampai Jumpa, Al-Azhar
Sampai Jumpa, Ranah Kinanah


Mutsallas, 7-8 Agustus 2015 M. 

Thursday, July 16, 2015

Senja Terakhir Bulan Ramadhan

Menikmati senja terakhir bulan Ramadan 1436 H, kembali mengingatkan saya pada detik demi detik waktu yang selalu beranjak demikian cepat, bergerak dinamis seiring desah nafas yang kita hirup setiap saat. Entah sudah berapa banyak waktu yang telah saya habiskan, entah sudah seberapa jauh perjalan yang telah  saya tempuh untuk menyusuri  tiap inci dari tanah yang saya pijak, semuanya sudah tidak menjadi penting ketika sudah berakhir menjadi masa lalu.

Dan, sekarang hanya tinggal satu harap yang tersisa dari perjalanan waktu yang mengirinngi; semoga saya tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang benar-benar m e r u g i .


Balkon, 16 Juli 2015 M. 

Monday, July 6, 2015

Husein, 05 Juli 2015 M.

Ada kebahagiaan ketika aku benar-benar sendiri. Sepi.
Bebas berevolusi
Mengekspresikan diri dengan segenap kemampuan imaji

Ada kesedihan tatkala kumerasa benar-benar sendiri. Sepi.
Tertindas sunyi
Tak tahu kapan semua peredaran akan berhenti

Husein, 05 Juli 2015 M.

Tuesday, May 5, 2015

Dear Purnama, 20150505

Dear Purnama..

Seperti hari-hari biasanya, mentari senja datang dan pergi mengitari waktu tak terbatas yang ia miliki. Dan hari ini untuk kesekian kalinya di tepian balkon ini, aku menyaksikannya tenggelam di batas kota. Mengingatkanku pada menipisnya waktu yang kumiliki, sedang aku masih belum mampu berbuat banyak. Dusta rasanya jika saat ini saya tidak merasa takut, aku takut kalau suatu saat saya benar-benar tenggelam dan tak muncul ke permukaan lagi.

Purnama, kini saatnya aku mulai menghitung mundur perjalanan ini, dan sebelum tiba saatnya aku pergi, aku ingin mengemas semua kenangan ini..


Balkon, 5 Mei 2015 M.